Namaku Melissa (Bagian III)
Pekan ini akan menjadi pekan produktif di luar pekerjaan. Selain berpose kembali menjadi seorang model dengan konsep , Korean eye make up look. Di akhir pekan, Sammy , Damara dan aku akan berlatihan kembali dengan motor trail.
Dua hal dengan kutub yang berbeda. Kecantikan dan
maskulinitas.
Sore ini, Titi mendandani ku seperti seorang wanita
muda Korea yang cute.
Titi bilang padaku , jika aku ingin meniru eye makeup ala Korea adalah dengan memilih warna base eyeshadow yang
natural, seperti krem, peach, pink muda, atau coklat
muda. Selain pilihan warna, eyeshadow bertekstur matte sebagai base untuk memudahkan
proses gradasi eyeshadow selanjutnya.
Kemudian,
Titi mengambil blending
brush, ia sapukan secara
perlahan eyeshadow tersebut
di seluruh bagian kelopak mata. Setelah menggunakan base eyeshadow berwarna
natural dan kalem, sekarang waktunya membuat tampilan gradasi eyeshadow yang dapat
mempercantik tampilan.
Setelah selesai membuat shading, Titi memilih
warna eyeshadow dengan
tekstur shimmer atau glitter. Kemudian mengaplikasikan eyeshadow dengan
menggunakan jari pada bagian tengah hingga menuju ke sudut mata.
Terakhir, Titi memakaikan ku maskara
untuk memberikan kesan pop up dan cute.
“Ya ampun, lucu banget Ti,
cute banget”, pekikku. Aku mengambil beberapa foto selfieku dan kagum dengan
penampilan sendiri.
“Ohya ini majalah yang
kemarin gw janjiin ya”, ujar Titi memberikan sebuah majalah. Di situ ada aku
menjadi model sebuah artikel bertajuk ; “Romance”. Dimana aku memakai sebuah dress berenda yang
provokatif. Pemicu tragedi kecupan.
Sebetul nya, aku hanya ingin
menggoda nya saja. Tidak ingin terlibat terlalu jauh. Seperti hubungan serius.
Kecupan itu bukan penegasan akan apa – apa. Hanya sebagai pembuktian bagi ku,
kalau, seorang Damara bisa aku taklukan. Dan ini akan menjadi permainan yang seru
dan sassy.
Ternyata memang betul kan ?,
kalau seorang Damara yang a hot quality bachelor dan terlihat
sulit untuk di dekati. Ternyata tidak. Tragedi kecupan itu membuat nya
terbayang – bayang diriku. Ia bilang kalau hal itu membuat nya menderita. Ooh iya
?... Aku menertawakan pengakuan nya di dalam hatiku.
Tapi..
Setelah melihat ia slengekan
ketika berlatih motor trail, rambut berantakan, wangi, berpenampilan casual
dengan kaus, perasaan ku jadi terprovokasi ingin lebih..
Melissa, jangan memggoda nya.
Nanti dia akan lebih menderita. Ayolah, Damara, aku menunggu kamu menyatakan perasaaanmu padaku. Sangat mudah
bagi ku untuk sekedar bilang suka, mengagumi, kepada seoranh pria.
Lanjut dengan pemotretan. Aku
sudah bilang bahwa aku tidak ingin memakai busana tidur lagi. Jadi untuk
pemotretan hari ini, aku memakai busana cute ala Idol Korea. Sweater berwarna
pink lembut dengan cat kuku berwarna pastel pink. Lipstik berwarna nude. Shoot
demi shoot fotografer mengambil gambar ku. Tidak banyak pose, sehingga tidak
sulit bagi ku di arahkan pose.
Yang aku suka adalah
penampilan ku hari ini. Sangat manis. Ketika selesai pemotretan. Aku membuka
lembar majalah yang Titi berikan. Halaman demi halaman , dan jari ku terhenti
untuk membalikkan majalah ke halaman berikut nya. Ketika aku melihat sebuah
turtleneck dengan keterangan ;
lace 3/4 sleeve turtleneck with silk
camisole. Layer under a sweater or dress for a feminine touch. Also makes for a romantic underpinning for a blazer or sleeveless
dress.
Turtleneck itu dengan aksen renda menawan berwarna hitam, berlengan panjang dan cantik. Memperlihatkan kulit di area leher dan lengan. Bagian dada tertutup oleh kain berbahan satin hingga di atas pinggang. Membuat ku ingin memiliki turtleneck ini!. Dengan semangat aku mencari tahu di mana aku membeli busana ini. Setelah selesai berpamitan dengan Titi.
Aku ingin turtleneck itu!...
Turtleneck hitam beraksen renda tersebut di jual di
salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Selatan. Dengan penuh semangat
dan berhasrat , aku ingin memilikinya...!
Terlintas di pikiranku ingin memakai nya
ketika bertemu lagi dengan Damara Sabtu ini. Dan ya, turtleneck itu milikku!.
Ah, cantik nya , renda yang cantik dan halus. Mewah dan elegan. Ini akan
menjadi investasi busana terbaik. Karena, pada artikel di majalah tertulis, turteneck
ini bisa di gunakan sebagai dalaman blazer dan dress berlengan kutung.
Esok nya , ketika di kantor, meja kerja ku
bersebelahan dengan meja Sammy. Sammy bilang bahwa , latihan motor trail di
majukkan menjadi besok sore. Karena Damara Sabtu pagi ada meeting. Arti nya besok
sore. Siang ini pekerjaan ku mengetik hasil laporan wawancara dengan Felicia.
Gadis oriental yang cantik dan bersuara manja. Dia memang gadis yang berbakat.
Aku melihat salah satu gaun hasil desain nya , sangat cantik. Gaun panjang berbahan
satin dan brokat. Gaun itu berlengan panjang dengan bahan utama satin berwarna sage.
Dengan lapisan luar aksen brokat berwarna sage. Pada bagian dada, bertaburan
rhinestone dan payet yang cantik. Sehingga busana ini terkesan mewah dan sangat
cantik. Jika saja ini berwarna hitam. Akan sangat menarik perhatian ku.
Rrrrr......rrrrrrr........
Ponsel ku bergetar. Ooh itu dari Titi.
“Melissa, sorry gw lupa tanya kemaren. Gw mau
tawarin foto lagi nih tapi... kalo foto kayak gini mau ga ?”..
Titi mengirimkan sebuah file pdf berupa foto. Foto
bertema “Appealing Women” , seorang wanita memakai busana mini dress hitam bergaya
turleneck berlengan panjang.
“Oke, kayak nya gak ada masalah”
“tapi nanti lu duduk di atas meja , sebelah
nya ada model pria”, ujar nya menambahkan keterangan.
“Iya , gak masalah. Asalkan jangan pake baju
lingerie, swimsuit, baju kebuka – buka”, tukas ku.
“Enggak kok, gw gak ada foto – foto kayak
gitu”
“Kapan rencana nya foto nya?. Dihari kerja gw
gak bisa, seperti biasa”
“Weekend , Sabtu – Minggu, ini belum tau
kapan. Nanti gw kabarin lagi”
“Oke, makasih Mel”
Tidak lama Titi menyudahi pembicaraan dan
menutup telepon.
Kembali kepada pekerjaan. Sammy menghampiri
meja ku dan mengajak ngobrol. Sambil mengetik, aku mengobrol dengan nya.
“Mel, ternyata Damara itu sempet ikut klub
motor trail berapa tahun lalu dan menang kejuaraan motocross. Tapi gw dulu gak
pernah ketemu dia ya”
“Ohya?, wah masuk geng kita dong, haha”
“Haha... serius ? tapi dia asik juga ternyata
ya, gw sering ngobrol sama dia akhir –
akhir ini, dan enggak kaku”
“Gw udah berapa kali dateng ngeliput acara
dia, selalu kaku pembawaan nya, bahasa nya baku banget. Kaget ngeliat nya pas
kita main kemaren, ternyata ya asik juga”
“nih gw browsing dan nemu berita ini”,
Sammy memberi tahu ku sebuah berita online
sekitar 10 tahun lalu ketika Damara berusia 25 tahun. Aku melihat foto nya di
portal berita itu, ia mirip Sammy!, berambut panjang , lurus, berantakan,
berbaju kotor. Di foto itu ia memenangkan sebuah kejuaraan motocross. Mata ku
nyaris terkejut melihat foto wajah nya bagaikan replika Austin Butler. Difoto
itu ia memakai jam tangan yang ia biasa pakai. Huh?. Jadi jam tangan mewah itu,
sudah menemani nya selama 10 tahun?..
Berambut panjang, hitam dan lurus. Berantakan,
ia memakai kemeja flannel merah kotak – kotak, wajah nya kotor dan. Mmmm.... ini
seperti tipe ku.
“Besok gw pengen ngobrol banyak sama doi, beruntung
lah kita bisa nongkrong bareng dia. Asli, keren ni orang !”,
Sammy berkata seperti itu seraya berlalu dari
ku. Aku mencari tahu soal berita itu dan diam – diam mencetak nya melalui mesin
print di mejaku. Ini sesuatu yang patut di simpan, biarkan aku mengagumi nya,
diam – diam. Dan berkembang menjadi sebuah rasa yang membuatku menderu dan
menggebu.
Dengan yakin dan tanpa pikir panjang, aku mengenakan turtleneck beraksen renda dan berwarna hitam. Dengan luaran jaket parka kecintaan ku dan celana jeans
biru belel dan sepatu vans klasik low. Sore ini kami akan ketemu dengan Damara
lagi. Tapi kali ini sore. Janjian di lokasi jam 4 sore. Karena load pekerjaan
tidak banyak.
Jadi aku dan Sammy sehabis meliput langsung ke
lokasi. Setelah absen. Tempat latihan ini tidak ramai. Sammy bilang ia akan mengajak
Damara agar kembali join ke klub motor trail dan ikut kejuaraan. Seperti yang
Sammy lakukan sekarang. Ia mencoba untuk kembali bergabung dengan kejuaraan. Sesampai
nya di sana, aku dan Sammy mengobrol dan menunggu kedatangan Damara.
Baru saja aku akan memantik korek api ke
sebatang rokok ku. Aku melihat kedatangan Damara dari jauh.
“Artis kita dateng....”, ujar Sammy menyenggol
lenganku.
Damara.. dia seorang alter ego..
Ketika aku bertemu dengan nya di kantor
Felicia , masih berpenampilan rapih. Sore ini, ia tidak berjalan kaki atau di
antar jemput supir kantor nya seperti bos pada umum nya.
Dia memang alter ego..
Pertama kali aku bertemu dengan nya, ia pria
tampan yang memuakkan dan arogan. Bagaimana ia dengan gaya bicara nya yang arogan ketika di depan podium. Ternyata dibalik itu, dia sungguh pria yang multitasking. Ia seorang pria
yang memiliki kemampuan untuk mendesain busana pria dan wanita.
Biasa nya, hal ini identik dengan kerancuan seksual. Tapi tidak dengan nya. Ia memiliki sisi seorang pria yang elegan dengan maskulinitas yang mendidihkan
hasrat ku.
Ia datang menggendarai motor trail nya
sendiri.
“Kawasaki D – Tracker, mantab!”, seru Sammy.
Dan menghampiriku dan Sammy. Berhenti di depan
kami. Ia menyapa Sammy akrab dan mereka terlihat akrab.
“Sam, besok pagi gw terbang ke Jateng , dan gw
tertarik mau join di klub motocross lu”, ujar nya sembari menepuk bahu Sammy.
“Asiik”, Sammy terlihat girang banget dan dia
memang berharap bisa dekat dan akrab dengan Damara.
Sore ini ia memakai kemeja flannel kotak –
kotak. Tapi seperti nya ini bukan flannel biasa. Dan tampilan kemeja flannel ini terlihat mewah. Pada sisi kanan dan
kiri nya kotak – kotak. Sedangkan di tengah berwarna hitam polos. Lalu ia mengenakan celana jeans
baggy dan Vans klasik low.
Rambut nya?, messy tapi seperti di styling.
“Gercep nih, langsung beli Kawasaki”, ledek
Sammy.
“Yoi, gw jualin tu semua stik golf ke member,
lumayan buat nambah – nambah beli motor, haha!... gw pingin kembali ke 10 tahun
lalu lagi”, sahut nya. Dia dan Sammy mulai mengobrol membahas mengenai keluwesan nya mengendarai motor trail.
“Yah gw emang pernah ikut kejuaraan 10 tahun
lalu dan stop karena gw fokus ngurusin
perusahaan. Nyokap gw kurang suka liat gw motor – motoran. Jadi gw fokus ke
anak cabang perusahaan lain, lini fashion”.. ia menjawab serangkaian pertanyaan
Sammy yang membuat nya penasaran.
Ia berdiri di sebelah ku dan mata ku tidak
berhenti menatap jam tangan chronograph itu. Dan kemeja flannel itu. Sebuah
perpaduan yang sempurna. Bandel dan elegan. Aku tidak banyak bicara. Hanya
memperhatikan. Sudah cukup membuat jatuh cinta?. Kemudian ia dan Sammy bermain
dengan motor trail mereka. Mengitari area ini, melompat, kebut – kebutan dan
slengekan. Sammy juga memakai kemeja yang sama dengan nya. Kemeja flannel.
Ooh..
Sudahlah..
Kalau kamu mulai jatuh cinta dengan nya,
tunjukkan saja Melissa..
Aku mengeluarkan sebatang rokok ku dan mulai menyalakan
korek api. Coba tebak, sudah 3 hari aku tidak merokok. Artinya, aku bukan
kecanduan nikotin. Hanya ingin merokok saja. Ketika mereka mengitari lapangan
ini dan melewati ku. Damara melirik kan mata nya pada ku. Tidak lama dari itu,
Sammy bilang akan keluar arena dan membeli air kelapa untuk kami di sore yang
panas ini.
Hari ini memang panas. Aku memakai jaket parka
dan turtleneck berenda. Membuka kancing jaket ini. Sehingga terlihat turtleneck renda yang cantik ini dan
misterius. Tidak lama Damara berjalan menghampiriku. Dan mata kami bertemu.
Tatapan mata nya seperti mengunci mata ku. Sehingga aku tidak bisa mengalihkan
pandangan mata nya. Ini gila!..
“jaket parka dan sebuah turtleneck berenda ,
jangan buat aku lebih menderita lagi, Melissa”, ujar nya sambil menatapku dan
menjatuhkan helm nya.
“Kenapa kamu memakai turtleneck berenda yang
cantik itu ke tempat seperti ini?”, tanya Damara.
“Karena aku tahu akan bertemu dengan Damara
dan sisi maskulin nya di tempat ini”, sahut ku sembari menghisap rokokku.
Ia berjalan ke arah ku. Mata nya tidak
sejengkal pun teralihkan dari turtleneck ini. Sampai ia berdiri di dekat ku dan
meneliti turtleneck yang aku kenakan.
“Oh My God, lihat renda hitam yang misterius, cantik,
gaib dan gloomy”, ia menyentuh renda yang ada di bagian tanganku.
“sorry gw gak bermaksud menyentuh tangan mu,
Melissa”... buru – buru ia menarik kembali tangan nya.
“kenapa ?, sentuh saja, rasakan kecantikan
sebuah renda yang irresistible”, ujar ku sambil berbisik. Ia menatap ku dengan
tatapan seperti anak kecil yang takut akan sesuatu.
“Kenapa ?, takut ?”, tanyaku tersenyum.
“Apa benar seorang Damara tidak pernah
menyentuh wanita?”..
“enggak pernah, karena ia di besarkan dalam
keluarga yang mayoritas pria dan tidak ada wanita. Satu wanita yang ia tau
hanya ibu nya. Dan dia belum pernah pacaran dengan siapapun”..
Aku membuang rokok ku.
“Oh iya, gw terenyuh dengar nya..”
“Kamu wanita pertama yang berani menyentuhku...”,
ujar nya seraya menatap mata ku. Tatapan mata puppy eyes..
Hari sudah semakin sore dan gelap.
“Puppy eyes, bagaimana seorang pria 35 tahun
menatap mata ku seperti itu?, satu ciuman tidak akan menyakiti siapapun”, aku
berkata seperti itu tidak di bawah kendali apapun.
Matahari mungkin sudah tenggelam, langit sudah
mulai gelap, aku meninggalkan sebuah ciuman lagi di bibir nya. Kali ini sebuah
ciuman yang sedikit emosional , terbawa perasaan. Jemari ini meremas rambut yang
wangi nya fantastis. Ia menarik lengan baju ku. Aku bisa mendengar desahan nafas
nya. Ia berusaha untuk mengontrol diri nya. Dan ia membalas ciumanku dengan
gaya yang sama seperti waktu itu, elegan. Beda nya, kali ini, tangan nya lebih
agresif menyentuh dan menarik baju ku.
Beri aku waktu 1 menit lagi. Dan kami larut
dalam kabut emosional dan perasaan. Wangi parfum yang membuat ku tidak ingin
menyudahi ini. Yang aku takutkan.
“Melissa”, kata nya seraya menyudahi ciuman
ini.
“Ssssttt...aku belum selesai, 5 detik lagi,
janji”, ujarku meneruskan kecupan itu. Damara mulai menarik jaketku.
“kenapa?”, tanyaku..
“Maafkan aku...”
“Maaf kenapa?”
“tolong, jangan seperti ini lagi , jadilah
milikku, pacarku, aku ingin serius....” kata – kata nya seperti memohon padaku
dengan tatapan puppy eyes..
“Pacar ?, siapa aku ? Cuma jurnalis gembel dan
perokok yang ceroboh dan kamu seorang bos?”
“aku gak peduli!, besok aku akan pergi
penelitian mungkin seminggu aku di sana. Dan tidak ingin tersiksa dengan
mimpiin kamu setiap hari, lama – lama aku bisa gila!”, ia berteriak dengan sedikit
emosi.
“Satu ciuman aja udah membuatku menderita,
tersiksa, dan bahkan aku gak bisa berpikir secara jernih belakangan ini.
Seorang Damara pertama kali nya ketika ia memimpin rapat tidak bisa berkata apa
– apa. Ia tidak takut kehilangan proyek, yang ia takutkan adalah kehilangan
wanita nya”..
Ia berbicara dengan nada emosi dan jengkel. Ia
menatap siluet motor trail nya di balik cahaya matahari yang mulai tenggelam.
“Liat gw, gw berantakan, gak cantik, kasar dan
bar – bar”, ujarku.
“Melissa, kamu cantik tapi kamu tomboy, aku
sudah lihat foto mu di salah satu artikel. Dan bergaya cewek kekanak – kanakan
ala Korea, tanpa make up pun kamu tetap mengalihkan perhatian ku. Dengan berani
seorang jurnalis wanita mempertanyakan kualitas seorang Damara dan perusahaan nya
yang jelas - jelas sudah terbukti secara ISO dan ternyata ia bernama Melissa”..
“Bagaimana bisa aku melupakan nya , terutama
ciuman pertamaku. Rasa nya manis dan tidak terlupakan... “
“Hmmm.... kalau gw pacaran sama Damara,
identitas gw akan terbuka”
“ Aku akan merahasiakan identitas kamu di
depan publik, tenang saja, hari ini aku memberanikan diri bilang kalau aku
Damara, Im in love with you, Melissa”, ia mengenggam tanganku dan menatap jari
jemariku.
Kasihanilah dia Melissa...
Kasihan ?...
Jatuh cinta ku adalah tidak ingin memiliki nya,
tapi, menguasai nya..
Puppy eyes...
“Dengan satu syarat....”, kataku.
“Apapun itu, katakan ...”
“Aku perokok dan ceroboh, jangan tuntut aku
untuk menjadi wanita anggun dan sempurna seperti Felicia”
“Felicia ?, kenapa dengan dia?, dengar , my
dearest Melissa, belum pernah ada wanita dalam hidup ku. Jika ada, seorang
wanita pertama yang singgah ke dalam pelabuhan hati seorang Damara, aku
bersumpah , akan menikahi nya di saat yang tepat dan tidak terburu – buru”
“Menikah?, waw...terdengar seksi”
“Iya menikahi nya. Tapi tidak saat ini”
“Setelah menikah, aku bisa menjarah apapun
milik Damara”, kata ku nakal.
“Sudah cukup, jangan memicu naluri laki – laki
ku menderu”, kata nya tersipu malu.
“Melissa, jadilah miliku, bersedia menemani
hari – hari ku , mendukung kesuksesan dan pekerjaan ku, jadilah teman diskusi
dan terbukalah dengan ku secara komunikatif, karena terkadang pria tidak peka
dan sibuk dengan pekerjaan”
“Hmmm... iya, sayang ku Damara”, jawabku seraya
menarik kemeja flanel nya.
“btw .. ini kemeja flannel yang gak biasa,
please, jawab jujur ini merek apa..?”, tanyaku menatap mata nya. Ketika aku
berdiri di depan Damara. Tinggi ku di berada di bawah dagu nya.
Ia tersenyum manis sebelum menjawab
pertanyaanku.
“Hmm... kalau aku jawab , nanti kamu akan
bilang aku tidak mencintai produk dalam negeri”.
“kalau berdua kayak gini, aku ga akan banyak protes,
jadi merek apa kemeja ini?”
“Apa penting nya sebuah merek, aku membeli ini
untuk situasi tertentu, Melissa”, kata nya dengan tone nada yang lembut.
“Please jawab aja atau... perlu aku buka
sendiri kemeja ini?”, lagi, menantang nya.
“Alexander McQueen, aku tau keterlaluan
membeli sebuah kemeja flannel dengan harga di atas kewajaran, bahkan aku pakai
kemeja ini ke tempat ekstrem seperti ini, ini aku beli sebagai bahan observasi seperti
apa kualitas bahan sebuah kemeja dari Italia”, jawab nya secara terstruktur.
“Dan mempelajari nya seperti apa tekstur dan
feeling ketika tangan kita menyentuh bahan ini, itu saja, bukan maksud untuk
pamer”, lanjut nya lagi.
“oke”, ujar ku..
“Melissa, hari sudah semakin sore dan gelap.
Masih ada waktu ku sebelum pergi besok pagi, ayo kita makan malam bersama di
salah satu atap gedung perkantoran di kawasan Jakarta”
“Hmm... baju ku seperti ini?”
“kamu punya turtleneck cantik dan wajah mu
yang mengalihkan perhatian ku”, ujar Damara tersenyum.
Tidak lama aku melihat Sammy kembali ke lokasi
dan menghampiri kami.
“Jadi gimana?, udah beres kan ?”, tanya Sammy.
“Beres”, begitu jawab Damara..
“Ayo
kita ajak Sammy, saya harus banyak berterima kasih sama dia”, ujar Damara
seraya merangkul Sammy.
“Ah jangan gitu lah bro, ga perlu reward apa –
apa, gw begini karena peduli sama Melissa. Masa 4 tahun dia jomblo dan dia
nyaman - nyaman aja?, gw sebagai⁹ teman
deket dia, gak bisa cuek aja”..
“ooowh Sammy, ternyata lo nyomblangin gw ?”
“Iya, sohib gw berhak bahagia juga”, kata
Sammy tersenyum renyah pada ku.
Malam itu , kami makan malam di atas gedung dengan
penampilan seada nya. Tanpa suit, dress, bersyukur nya, kemeja Damara dan Sammy
tidak kotor. Dengan ‘sedikit’ bantuan dari sang bos, Damara. Agar kami di
ijinkan masuk ke sebuah restoran cantik yang terletak di atas salah satu gedung
tinggi di kawasan Jakarta Selatan. Ternyata Sammy diam – diam membantu ku agar
dekat dengan Damara. Dan semua ini adalah rencana nya. Dia bahkan memikirkan ku
yang terlalu cuek ini.
Aku sempat berpikir kalau Melissa hanya akan
berkencan dengan pria tipe nya. Pria idaman nya seperti Sammy, dulu. Ternyata,
ia mendapatkan seorang pria yang lebih dari idaman..
Akhir nya , Damara menyatakan perasaan nya padaku.
Dan meminta ku agar menjadi milik nya. Apakah ini happy ending?, justru hubungan
serius ini akan menemukan tantangan nya di kemudian hari, percayalah...
Komentar
Posting Komentar